Breaking News
Loading...
Rabu, 09 Juni 2010

Info Post
SALINAN


BAB I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah dalam hal ini
Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar
penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) paling tidak dapat memenuhi standar minimal tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa pendidik diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, pendidik diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.

Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Apabila bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak ada atau sulit diperoleh maka membuat bahan ajar sendiri adalah suatu keputusan yang bijak. Kalaupun bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan ajar tersebut.

Bahan ajar merupakan salah satu lingkup penting yang menjadi garapan dalam PSB-SMA yang berfungsi sebagai wahana belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sebagai bagian dari sumber belajar, bahan ajar memiliki peran penting dalam perencanaan pembelajaran dan proses pembelajaran.

Bahan ajar yang dikembangkan sendiri harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran yang mencakup lingkungan sosial, budaya, geografis, tahapan perkembangan peserta didik, kemampuan awal, minat, latar belakang keluarga dan lain-lain. Oleh karena itu pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah ataupun kesulitan dalam belajar. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing, dan sebagainya.




Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014 bahwa kebutuhan akan penguasaan dan penerapan IPTEK dalam rangka menghadapi tuntutan global berdampak pada semakin meningkatnya peranan TIK dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, meningkatnya kebutuhan untuk berbagi informasi dan pengetahuan dengan memanfaatkan TIK, serta perkembangan internet yang menghilangkan batas wilayah dan waktu untuk melakukan komunikasi dan akses terhadap informasi. Kondisi di atas menuntut diberlakukannya kebijakan di bidang TIK.

Pembelajaran berbasis TIK diharapkan mampu membantu peserta didik menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut, misalnya dengan penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dll. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik, sehingga menjadi lebih mudah dipahami. Peserta didik saat ini telah memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) hampir dalam setiap kegiatan mereka sehari-hari. Namun, hal ini tidak mereka dapatkan di sekolah karena belum banyak pendidik yang memanfaatkan bahan ajar berbasis TIK.

Tidak ada hal yang baru tentang penggunaan TIK dalam pembelajaran, tetapi terdapat banyak sekali keragaman dalam penggunaannya. Beberapa pendidik ada yang sudah menggunakan TIK dalam proses pembelajaran selama bertahun-tahun dan terampil dalam menggunakannya, cekatan dalam memperoleh teknologi baru, mengadopsi dan menerapkannya dalam setiap pelajaran. Namun, sebagian pendidik masih kurang percaya diri dalam menggunakan perangkat komputer, kesulitan menerapkannya dalam pembelajaran, dan kurangnya pengetahuan akan kemampuan yang dapat dilakukan oleh TIK, baik itu dalam hal perencanaan, pembelajaran, maupun penilaian.

Penggunaan TIK bukanlah apa yang kita gunakan tetapi yang penting adalah bagaimana dan kapan kita menggunakannya. Penggunaan TIK secara efektif di dalam kelas bukan hanya tentang menjalankan sebuah teknologi. Tetapi, bagaimana kita menyampaikan materi tersebut menggunakan TIK dan kapan waktu yang tepat untuk menyampaikannya.

Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran - Dit. PSMA (yang antara lain disebutkan bahwa melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum) dipandang perlu menyusun panduan bagi pendidik SMA sehingga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pengembangan bahan ajar.

Sehubungan hal tersebut di atas, maka Direktorat Pembinaan SMA melalui Pusat Sumber Belajar SMA (PSB-SMA) berupaya memberi layanan bimbingan dengan menyusun Panduan Pengembangan Bahan Ajar Berbasis TIK.




B. Tujuan
Panduan pengembangan bahan ajar berbasis TIK dibuat dengan tujuan:
1. memandu para pendidik dalam menyusun dan mengembangkan bahan
ajar yang efektif pada kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing;

2. memandu para pendidik dan Penanggung Jawab Mata Pelajaran sebagai bagian dari pengelola PSB dalam menilai tingkat kelayakan bahan ajar berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh PSB-SMA Direktorat Pembinaan SMA.


C. Hasil yang diharapkan
Hasil yang diharapkan dari Panduan Pengembangan Bahan Ajar berbasis TIK
adalah:
1. pendidik dapat menyusun dan mengembangkan bahan ajar yang efektif;
2. Pendidik dan Penanggung Jawab Mata Pelajaran sebagai bagian dari pengelola PSB mampu menilai bahan ajar yang telah dibuat.




BAB II

PENGERTIAN BAHAN AJAR BERBASIS TIK




A. Sumber Belajar dan Bahan Ajar
Merujuk pada esensi dari KTSP serta anjuran para pakar pendidikan, dalam pelaksanaan pembelajaran sebaiknya pendidik menggunakan lebih dari satu media secara lengkap (multimedia), sesuai dengan keperluan dan yang menyentuh semua aspek. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran pada satuan pendidikan yang harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (PP No. 19 Tahun 2005). Oleh karena itu penggunaan Bahan Ajar Berbasis TIK sebagai bahan ajar multimedia menjadi salah satu pilihan yang baik untuk pelaksanaan pembelajaran.

Flemming dan Levie (Wilkinson 1980) memberikan petunjuk tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran seperti berikut: ”Apabila pembelajaran dilaksanakan dengan hanya menggunakan satu media maka rangsangan yang diperlukan untuk belajar sangat terbatas. Suatu pembelajaran seharusnya menggunakan multimedia agar rangsangan yang diperlukan untuk belajar menjadi lengkap karena telah meliputi rangsangan yang disebabkan oleh penggabungan audio dan visual.”

Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda, yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar.

1. Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar.

Sumber belajar dalam website based didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. (http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/asleares.htm January 28, 1999).

Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu peserta didik dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh peserta didik ataupun pendidik. Sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.




2. Pengertian Bahan Ajar
Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar
adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA pada website-nya, WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif. Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:

Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan peserta didik dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.

Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a. pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi
kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik;
b. pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya;
c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.

Sedangkan manfaat dari bahan ajar yang dikembang oleh pendidik adalah:
a. diperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan
sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.
b. tidak lagi tergantung kepada buku teks pelajaran yang terkadang sulit diperoleh.
c. menjadi lebih kaya karena dikembangkan menggunakan berbagai
referensi.
d. menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman pendidik dalam menulis.
e. mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antar pendidik




B. Bahan Ajar Berbasis TIK
Bahan Ajar Berbasis TIK adalah bahan ajar yang disusun dan dikembangkan dengan menggunakan alat bantu TIK untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas.

Dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan bahan ajar TIK memungkinkan peserta didik dapat mempelajari suatu kompetensi dasar (KD) secara runtut, sistematis, interaktif dan inovatif sehingga diharapkan semua kompetensi tercapai secara utuh dan terpadu.

1. Karakteristik Bahan Ajar Berbasis TIK
Peran penting Bahan Ajar berbasis TIK dalam proses pembelajaran didasari oleh karakteristik Bahan Ajar yang lebih kompleks dibanding jenis bahan ajar lain. Beberapa karakteristik Bahan Ajar berbasis TIK antara lain :
a. memanfaatkan keunggulan komputer (digital media ataupun
teknologi jaringan / computer network).
b. memanfaatkan teknologi multimedia, sehingga suasana pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan dan pada akhirnya memotivasi peserta didik untuk belajar mandiri
c. memanfaatkan teknologi elektronik; di mana pendidik dan peserta
didik, peserta didik dan sesama peserta didik atau pendidik dan sesama pendidik dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
d. menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials)
disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
e. memanfaatkan Pertukaran Data (Information sharing) yang secara interaktif dapat dilihat setiap saat di komputer.

2. Keunggulan Bahan Ajar Berbasis TIK
Bahan Ajar berbasis TIK memiliki keunggulan antara lain sebagai berikut:
a. memberikan kemudahan bagi pendidik dalam proses pembelajaran
untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak.
b. berubahnya peran peserta didik dari yang biasanya pasif menjadi aktif serta mempunyai ketertarikan pada materi yang sedang dibahas.
c. peserta didik dapat belajar atau menelaah bahan ajar sewaktu-
waktu karena bahan ajar dapat tersimpan di komputer.
d. pendidik dan peserta didik dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui jaringan intranet atau internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.
e. tersedianya fasilitas e-moderating di mana pendidik dan peserta didik dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.
f. baik pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi dan berinteraksi melalui fasilitas-fasilitas internet yang dapat dilakukan secara kelompok/group. (Elangoan, 1999; Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997)





Di ruang kelas, pendidik dapat mengawasi proses pembelajaran peserta didik di mana waktu dan tempat sudah ditetapkan. Berbeda halnya di luar ruang kelas, peserta didik dapat menggunakan bahan ajar berbasis TIK di mana mereka belajar pada waktu dan dengan kecepatan yang diinginkan. Dengan demikian, diperlukan bahan ajar yang interaktif agar peserta didik menjadi tertarik sehingga tidak meninggalkan pembelajaran.




BAB III

PENYUSUNAN BAHAN AJAR BERBASIS TIK


Bahan ajar berbasis TIK memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahan ajar biasa seperti buku, modul maupun handout. Karakteristik umum bahan ajar berbasis TIK adalah dalam hal penggunaan TIK untuk penyusunan maupun penggunaannya.

Sesuai dengan arah pengembangan bahan ajar berbasis TIK yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA melalui website PSB-SMA, maka penyusunan bahan ajar berbasis TIK harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditetapkan, baik pada tahap perencanaan, persiapan, penyusunan, penilaian atau validasi dan pengiriman bahan ajar berbasis TIK.

A. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan dalam menyusun bahan ajar berbasis TIK bertujuan untuk menentukan karakteristik SK-KD suatu mata pelajaran apakah pembelajarannya dapat dikembangkan menggunakan bahan ajar berbasis TIK.

Seperti halnya pada pemetaan SK-KD dalam penyusunan silabus, maka pemetaan SK-KD dalam penyusunan bahan ajar juga harus memperhatikan tingkatan ranah berfikir dan karakteristik materi yang dikembangkankannya. Dengan analisis ini diharapkan diperoleh gambaran yang jelas mengenai jenis bahan ajar yang dapat digunakan, strategi penggunaan bahan ajar serta alokasi waktu yang tepat

Pemetaan SK-KD untuk menentukan jenis bahan ajar yang digunakan untuk pembelajaran dapat menggunakan format sebagai berikut :



Kelas SK KD THP Indikator
Pencapaian THP Karakteristik
Materi Kegiatan
Pembela jaran Jenis
Bahan
Ajar Alokasi
Waktu




Dari tabel format diatas dapat dilihat bahwa secara umum, pemetaan SK-KD penyusunan bahan ajar memiliki karakteristik yang sama dengan yang digunakan untuk penyusunan silabus, yang membedakan adalah bahwa dalam pemetaan ini harus secara tegas diidentifikasikan Karakteristik Materi dan Jenis Bahan ajar.

Identifikasi karakteristik materi penting dalam menentukan jenis bahan ajar yang akan disusun maupun digunakan. Identifikasi karakteristik materi harus mengacu pada pada SK, KD maupun Indikator pencapaian.




Ada tiga kemungkinan karakteristik materi yang diperoleh dari hasil identifikasi, yaitu :
1. Kongkrit, materi yang secara nyata dapat dilihat dan dirasakan, seperti
batu, kayu, awan, dan sebagainya
2. Abstrak, materi yang tidak nyata maupun dapat dirasakan atau memerlukan alat bantu untuk membuktikannya, seperti rumus kimia, bentuk sel, bentuk bakteri, aliran udara dan sebagainya
3. Simulatif, yaitu materi memerlukan permodelan atau aktifitas yang dimodelkan, seperti terjadinya gerak melingkar, terjadinya aliran angin, terjadinya banjir, terjadinya gunung meletus dan sebagainya

Ada tiga variable yang digunakan untuk menentukan jenis bahan ajar dalam suatu pembelajaran, yaitu: Karakteristik materi dan Tahap berfikir pada Indikator Pencapaian serta jenis kegiaan pembelajarannya. Pada umumnya, materi yang bersifat abstrak dan simulatif memerlukan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk memahami karena memerlukan tingkat berfikir yang kompleks. Indikator pencapaian yang memerlukan tahap berfikir tinggi memerlukan materi yang mudah dikenali dan terkadang memerlukan media untuk memudahkan dalam pencapaian materi ajar.

Pada umumnya materi abstrak atau simulatif, memerlukan tahap berfikir tinggi serta kegiatan pembelajaran yang bersifat tatap muka akan lebih mudah dipahami peserta didik apabila menggunakan bahan ajar berbasis TIK dalam kegiatan pembelajarannya.


B. Tahap Persiapan
1. Penentuan Materi Ajar
Penetuan materi ajar merupakan kegiatan pengumulan dan identifikasi materi ajar yang akan digunakan untuk menyusun bahan ajar berbasis TIK. Penentuan materi harus mengacu dari hasil analisis SK, KD dan indikator pencapaian yang telah dibuat melalui pemetaan SK-KD.

2. Penentuan Jenis Software
Saat ini banyak sekali software yang dapat digunakan untuk menyusun bahan ajar berbasis TIK dari yang sederhana sampai yang kompleks. Penentuan jenis software sangat tergantung dari kemampuan penyusun dalam memanfatkan software yang ada.

Beberapa software yang dapat digunakan untuk penyusunan bahan ajar berbasis TIK antara lain Microsoft Power Point, Macromedia Flash, dan Authorware.

3. Penentuan Jenis bahan Ajar berbasis TIK
Pengembangan bahan ajar berbasis TIK diperlukan untuk meningkatkan interaktivitas peserta didik dengan materi yang diajarkan. Dengan demikian harus dirancang agar menarik peserta didik.

Peserta didik akan merasa tertarik untuk belajar dengan bahan ajar berbasis
TIK apabila:




a. terdapat tantangan
b. terlibat dalam mengambil sebuah keputusan
c. diperbolehkan untuk mengeksplorasi bahan ajar
d. mendapatkan informasi tambahan yang sesuai
e. diperbolehkan untuk berbuat kesalahan tanpa disertai sanksi f. pembelajaran menyenangkan bagi mereka

Interaktivitas bahan ajar sangat tergantung dengan karakteristik materi yang akan diajarkan. Terdapat empat tingkatan interaktifitas yang dapat ditempuh. Tidak semua materi diharuskan memiliki interaktifitas yang tinggi, bergantung dari materi yang akan disampaikan. Tahapan itu terbagi sebagai berikut1:

1) Tingkat I: Pasif
Pada tingkatan ini, peserta didik hanya bertindak sebagai penerima informasi. Peserta didik membaca teks atau melihat gambar yang ditampilkan. Interaksi yang terjadi hanya pada saat peserta didik
menekan tombol navigasi untuk maju ke halaman berikutnya atau mundur ke halaman sebelumnya.

Tingkat I saat ini masih mendominasi bahan ajar yang telah dibuat oleh pendidik di seluruh Indonesia. Tingkat ini masih relevan apabila yang disampaikan adalah pengetahuan.

Pada tingkat I ini dapat diterapkan evaluasi pilihan ganda, rollover sederhana (jika mouse melewati suatu area tertentu, maka area tersebut berubah), animasi sederhana, pop-up (pada saat peserta didik mengklik satu tombol, akan keluar informasi tambahan).

2) Tingkat II: Interaksi Terbatas
Pada tingkatan ini, peserta didik memberikan respon sederhana atas instruksi yang diberikan. Tambahan dari tingkat I adalah, pada tingkat ini terdapat pilihan ganda berdasarkan soal cerita, menjodohkan antara
teks dan gambar. Simulasi mungkin ada tetapi peserta didik hanya mengikuti alur atau prosedur yang ditampilkan, peserta didik belum memasukkan respon terhadap apa yang dilihat. Dapat juga dimasukkan animasi interaktif yang memungkinkan peserta didik menyelidiki atau mengeksplorasi lebih jauh.

Tingkat II baik digunakan untuk pembelajaran yang bersifat
pemahaman.

3) Tingkat III: Interaksi kompleks
Pada tingkat ini, peserta didik mulai memberikan respon yang bervariasi terhadap petunjuk yang diberikan. Selain interaksi yang ada pada tingkat sebelumnya, pada tingkat ini peserta didik mengisi sebuah kotak isian dan memanipulasi gambar yang disajikan untuk menakar sampai sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan.


1 Lange, M. eLearning: From Level I to Level IV of Interactivity: Why choosing the appropriate interactivity is important. Entelisys Technologies, 2006.




Pada tingkat ini, peserta didik dapat memasukkan variabel nyata yang diinginkan. Variabel yang dimasukkan akan berpengaruh terhadap simulasi yang terjadi pada layar.

Tingkat III baik digunakan untuk pembelajaran yang bersifat Aplikasi dan Analisa.

4) Tingkat IV: Interaksi langsung
Interaksi langsung menciptakan sebuah bahan ajar yang bertindak seperti layaknya yang akan terjadi pada dunia nyata. Peserta didik terlibat dalam sebuah simulasi yang mirip dengan kehidupan nyata. Stimuli dan respon dikoordinasikan dengan lingkungan nyata. Pembelajaran dan penilaian langsung terjadi, dan bahan ajar ini memungkinkan kolaborasi dengan peserta didik lain atau dengan pendidik.

Tingkat IV baik digunakan untuk pembelajaran yang bersifat Sintesa dan Evaluasi.

4. Penyusunan Storyboard
Storyboard (cetak biru bahan ajar) sebagai kerangka acuan dalam menyusun bahan ajar berbasis TIK berupa urutan tampilan bahan ajar yang akan dikembangkan.

Penyusunan storyboard adalah salah satu cara alternatif untuk mensketsakan kalimat penuh sebagai alat perencanaan. Storyboard menggabungkan alat bantu narasi dan visual pada selembar kertas sehingga naskah dan visual terkoordinasi dengan baik.

Komponen yang harus ada pada storyboard meliputi urutan tampilan, Materi Tampilan, Diskripsi, Navigasi dan Tata letak/disain tampilan.

Berikut ini adalah contoh storyboard:






A. Identitas Bahan Ajar

Storyboard
(Judul Bahan Ajar)

1. Standar Kompetensi :
2. Kompetensi Dasar :
3. Indikator Pencapaian :
4. Kelas/Semester :
5. Model Bahan Ajar : Tutorial/Simulasi/Presentasi




B. Storyboard

No Materi Tampilan Deskripsi Navigasi Disain
tampilan
1 Judul Bahan Ajar dan
identitas Bahan ajar Berisi mengenai judul, dan
identitas bahan ajar berguna untuk memperkenalkan to- pic materi yang akan diberi- kan dan peruntukan-nya 1. Home untuk
keluar dari materi
2. Next untuk ke slide selanjutnya
Judul

Identitas Bahan
Ajar

Identitas
Institusi
2 dst dst dst dst




C. Tahap Penyusunan
Kegiatan penyusun bahan ajar berbasis TIK tergantung dari karakteristik materi yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran.

Penyusunan bahan ajar harus mengikuti kaidah-kaidah yang baku dalam penyusunan bahan ajar. Secara umum, bahan ajar harus memuat :

1. Judul, kelas, semester dan identitas penyusun
Pada umumnya judul bahan ajar, kelas, semester dan identitas terletak pada halaman muka (beranda). Hal ini penting diperhatikan agar memudahkan pemakai dalam memilih bahan ajar yang akan digunakan.

2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar harus diinformaskan dalam bahan ajar yang disusun karena sebagai acuan bagi pemakai mengenai kompetensi yang harus dicapai peserta didik setelah mempelajari materi yang terdapat pada bahan ajar tersebut.

3. Indikator Pencapaian
Indikator pencapaian menggambarkan hasil-hasil yang harus dicapai peserta didik setelah mempelajari materi yang ada pada bahan ajar. Indikator pencapaian lebih menekankan pada aspek hasil belajar yang merupakan
tahapan untuk mencapai kompetensi sesuai dengan standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya

4. Materi Bahan Ajar
Materi bahan ajar berbasis TIK harus memperhatikan tingkat interaktivitas
bahan ajar yang disusun. Pengorganisaian materi bahan ajar harus mencerminkan aspek yang dilihat dari :
a. Kompleksitas, materi harus dikembangkan dari yang sederhana menuju yang kompleks baik dalam pengembangan konsep maupun contoh-contoh
pendukungnya
b. Urgenitas, materi inti harus dikembangkan lebih dulu dari pada materi pengembangan.
c. Keruntutan, materi harus memberikan pemahaman yang runtut terhadap pemahaman konsep. Penyusunan materi yang tidak runtut menyulitkan




peserta didik dalam memahami hubungan antar konsep dan sulit memetakan dalam pikiran.

5. Latihan soal
Latihan soal atau pemberian contoh permasalahan merupakan hal penting yang ada pada bahan ajar berbasis TIK karena dapat untuk mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang diberikan pada saat
pembelajaran.

Pemberian contoh soal dan permasalahan juga bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang ada pada bahan ajar melalui pembahasan bersama

6. Uji kompetensi
Bahan ajar yang baik harus menyertakan bahan uji kompetensi yang disusun berdasarkan kisi-kisi yang disesuaikan dengan SK, KD dan Indikator Pencapaiannya.

Soal Pada Uji Kompetensi umumnya disertai balikan (feedback) agar peserta didik dapat mengetahui kompetensi mana yang telah tercapai dan mana yang belum tercapai

7. Referensi
Referensi adalah acuan atau sumber materi yang digunakan dalam penyusunan bahan ajar. Penyertaan referensi pada bahan ajar penting untuk menghindari plagiasi dan dapat dijadikan sebagai rujukan apabila
memerlukan informasi lebih lanjut


D. Tahap Penilaian
Tahap Penilaian Bahan ajar merupakan evaluasi terhadap bahan ajar yang telah disusun apakah sudah memenuhi syarat ataukah perlu penyempurnaan . merupakan dalam menyusun bahan ajar berbasis TIK yaitu:

Bahan ajar berbasis TIK yang hendak dijadikan sebagai konten pada website PSB-SMA harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditentukan oleh Direktorat Pembinaan SMA sesuai dengan instrumen yang telah dikembangkan.

E. Tahap Pengiriman
Menyerahkan file bahan ajar berbasis TIK kepada Penanggung Jawab Pelaksana sekolah PSB-SMA.

Penanggung Jawab Pelaksana Sekolah PSB-SMA wajib mengirimkan bahan ajar berbasis TIK tersebut kepada Penanggung Jawab Mata Pelajaran PSB-SMA.




BAB IV

KOMPONEN DAN INSTRUMEN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS TIK




A. Komponen Penilaian Bahan Ajar
1. Komponen Instrumen penilaian bahan ajar mengacu pada empat bagian yaitu:

a. Subtansi Materi : kebenaran, kedalaman, kekinian, dan keterbacaan

a.1. Kebenaran : bahan ajar yang disajikan tidak menyimpang dari kebenaran ilmu
a.2. Kedalaman : bahan ajar yang disajikan sesuai dengan kedalaman materi
a.3. Kekinian : bahan ajar yang disajikan sesuai dengan perkembangan ilmu
a.4. Keterbacaan : bahan ajar yang disajikan menggunakan tata bahasa yang baku dan dapat dimengerti

b. Desain Pembelajaran : judul, SK, KD, indikator, materi, contoh soal, latihan, penyusun, dan referensi

b.1. Judul : sesuai dengan materi b.2. SK : sesuai dengan SI
b.3. KD : sesuai dengan SI

b.4. Indikator : penanda pencapaian kompetensi peserta didik atau peserta didik

b.5. Materi : sesuai dengan SK – KD

b.6. Contoh soal : sesuai dengan indikator pencapaian b.7. Latihan : sesuai dengan indikator pencapaian b.8. Penyusun : identitas penyusun
b.9. Referensi : mencantumkan daftar rujukan


c. Tampilan (komunikasi visual) : navigasi, tipografi, media, warna, animasi dan simulasi

c.1. navigasi : kemudahan akses antar slide
c.2. Tipografi : proporsional antara besar huruf dan ruang slide
c.3. Media : gambar, suara, video sesuai dengan materi yang disajikan




c.4.

Warna :

harmonisasi warna
c.5. animasi : animasi sesuai dengan peruntukan
c.6. Layout : desain tampilan bahan ajar

d. Pemanfaatan Software : interaktif, software pendukung, keaslian

d.1. Interaktif : Umpan balik dari sistem ke pengguna

d.2. Software pendukung : penggunaan software pendukung selain software utama pembuatan bahan ajar

d.3. Keaslian : keaslian karya bahan ajar

2. Skor merupakan angka dalam skala ordinal yang diberikan pada setiap indikator menunjukkan tingkat kondisi indikator. Skor diberikan dalam skala 1-4.

3. Total skor maksimum adalah 70. Cara penghitungan nilai adalah dengan membagi skor yang didapat dengan skor maksimum dikalikan 100.

Contoh: total skor untuk bahan ajar Ekonomi berjudul Kelangkaan mendapatkan skor 50. Maka nilai yang diperoleh adalah (50/70) x 100 =
7,14

Kriteria nilai adalah sebagai berikut:

a. < 51 : Kurang b. 51 – 70 : Cukup c. 71 – 90 : Baik
d. 91 – 100 : Sangat Baik

4. Untuk kriteria nilai kurang dan cukup dikembalikan kepada penyusun untuk direvisi

5. Untuk kategori penilaian baik dan sangat baik, langsung dikirimkan ke pihak Penanggung Jawab Pelaksana PSB Inti untuk diteruskan kepada Penanggung Jawab Mata Pelajaran.




B. Instrumen Penilaian Bahan Ajar Berbasis TIK
Panduan dalam menilai bahan ajar:

1. Substansi Materi

No Indikator Kriteria Skor




1 Kebenaran
a. Sesuai dengan kaidah keilmuan
b. Testable/teruji
c. Faktualitas (berdasarkan fakta)
d. Logis/rasional Salah satu item terpenuhi 1

2-3 item terpenuhi
2


Semua item terpenuhi

3




2 Cakupan Materi
a. Kelengkapan materi
b. Eksplorasi/pengembangan c. Kolaborasi dengan materi
yang lain/mata pelajaran
yang lain
d. Deskriptif/Imajinatif
Salah satu item terpenuhi
1
2-3 item terpenuhi 2


Semua item terpenuhi

3





3 Kekinian
a. Aktualitas (dilihat dari segi materi)
b. Up to date (menggunakan contoh aplikasi/penerapan berdasarkan kondisi nyata saat ini)
c. Inovatif (memunculkan hal-hal yang baru)
Salah satu item terpenuhi
1


2-3 item terpenuhi

2

Semua item terpenuhi
3




4



Keterbacaan Bahasa tidak baku dan tidak dapat
dimengerti
1
Bahasa baku tetapi tidak dapat
dimengerti
2
Bahasa tidak baku dan dapat
dimengerti
3
Bahasa baku dan dapat dimengerti 4


2. Tampilan Komunikasi Visual

No Komponen Penilaian Kriteria Skor






1





Navigasi Tidak menggunakan navigasi sama
sekali.
1
Menggunakan navigasi dasar tetapi ada navigasi yang tidak berfungsi.
2
Menggunakan navigasi dasar dan
hyperlink walaupun salah satu ada yang tidak berfungsi.
3
Menggunakan navigasi dasar dan
hyperlink yang berfungsi dengan baik.
4








2



Huruf Tidak bisa terbaca dengan baik 1
Terbaca, tapi tidak proporsional. 2
Terbaca dan proporsional, tapi komposisi huruf tidak tepat.
3
Terbaca, proporsional dan komposisi
huruf baik.
4




3



Media (Film, suara, gambar, animasi) Tidak menggunakan media sama
sekali. 1
Menggunakan media tapi ada salah
satu elemen yang tidak berfungsi atau penambahan media mengganggu pembelajaran.

2
Media lebih dari satu dan berfungsi
dengan baik. 3



4


Warna Warna terlalu mencolok/terlalu pucat. 1
Komposisi warna cukup baik, tetapi tampilan warnanya terlalu monoton.
2
Komposisi warna baik dan
tampilannya menarik.
3




5



Animasi (slide) Tidak ada animasi sama sekali. 1
Memakai animasi tetapi berlebihan (tiap slide lebih dari 2 animasi dan memperlambat tampilan).
2
Menggunakan animasi yang sesuai dengan konteks dan tidak memperlambat tampilan slide.
3


6

Layout Tata letak desain mengganggu keterbacaan dan pembelajaran.
1
Tata letak desain proporsional dan
menarik.
2

3. Desain Pembelajaran

No Komponen Penilaian Kriteria Skor



1


Judul Tidak ada judul 1
Ada judul, tapi kurang sesuai isi 2
Ada judul, sesuai isi tapi kurang
efektif
3
Ada judul yang menarik dan sesuai isi 4

2
SK-KD Tidak mencantumkan SK-KD 1
Mencantumkan SK-KD 2




3



Tujuan Pembelajaran Tidak ada tujuan pembelajaran 1
Ada Tujuan pembelajaran tapi tidak sesuai dengan SK-KD
2
Tujuan pembelajaran sesuai dengan
SK-KD
3
Sesuai dengan SK-KD dan
menunjukkan manfaat yang diperoleh
4




bagi peserta didik
4 Materi Tidak sesuai dengan tujuan
pembelajaran
1
Sesuai dengan tujuan pembelajaran
tapi tidak ada apersepsi maupun pengayaan
2
Sesuai dengan tujuan pembelajaran,
ada apersepsi tapi tidak ada pengayaan
3
Sesuai dengan tujuan pembelajaran, ada apersepsi dan pengayaan materi
4
5 Contoh Soal Tidak ada contoh soal 1
Ada contoh soal tapi tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
2
Ada contoh soal sesuai dengan tujuan
pembelajaran
3
Ada contoh soal sesuai dengan tujuan
pembelajaran dan menstimulus peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan

4
6 Latihan/Tes/Simulasi Tidak ada latihan/tes/simulasi 1
Ada latihan/tes/simulasi tapi tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
2
Ada latihan/tes/simulasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
3
Ada latihan/tes/simulasi yang
memungkinkan peserta didik untuk menguasai kompetensi melampaui kompetensi dasar yang diharapkan


4
7 Penyusun Tidak terdapat identitas penyusun
(nama, institusi, informasi kontak)
1
Terdapat identitas penyusun (nama,
institusi, informasi kontak)
2
8 Referensi
Contoh Referensi
a. Bahan sumber (media elektronik/cetak)
b. Kutipan (foot note)
c. Nara Sumber (wawancara/dialog/pernya taan/model)
Tidak terdapat referensi
1

Terdapat 1 - 5 referensi
2


Terdapat > 5 referensi

3







4. Pemanfaatan Software








butir soal maupun pada proses




BAB V PENUTUP



1. Bahan Ajar Berbasis TIK adalah bahan ajar yang disusun dan dikembangkan dengan menggunakan alat bantu TIK untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas.

2. Bahan Ajar Berbasis TIK memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahan ajar biasa seperti buku, modul maupun handout. Karakteristik umum bahan ajar berbasis TIK adalah dalam hal penggunaan TIK untuk penyusunan maupun penggunaannya.

3. Arah pengembangan bahan ajar berbasis TIK yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA melalui website PSB-SMA, maka penyusunan bahan ajar berbasis TIK harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditetapkan, baik pada tahap perencanaan, persiapan, penyusunan, penilaian atau validasi dan pengiriman bahan ajar berbasis TIK.

4. Penilaian bahan ajar berbasis TIK harus sesuai dengan kaidah yang terdapat di dalam instrumen yaitu substansi materi, desain pembelajaran, tampilan (komunikasi visual), dan pemanfaatan software.




LAMPIRAN 1. Checklist Prosedur Pengembangan Bahan Ajar Berbasis TIK

? Membuat folder utama dan sub folder untuk menyimpan gambar, media, dan file pendukung lainnya.
? Mengembangkan storyboard (cetak biru bahan ajar) sebagai kerangka acuan dalam menyusun bahan ajar.
? Membuat Graphic User Interface (GUI) atau tampilan bahan ajar untuk halaman judul dan halaman isi.
? Memasukkan petunjuk penggunaan program, informasi mengenai cara penggunaan bahan ajar.
? Mencantumkan informasi pendukung berkaitan dengan kesesuaian SK-KD, Indikator, dan Tujuan Pembelajaran.
? Menyusun konten bahan ajar.
? Menambah teks dan desain bahan ajar berbasis TIK PSB-SMA yang memuat: (1) Beranda: judul, kelas, dan semester; (2) SK-KD; (3) Indikator
Pencapaian; (4) Materi Bahan Ajar; (5) Latihan soal; (6) Uji kompetensi; (7) Referensi; (8) Penyusun.

? Menambah animasi.

? Menambah interaktifitas.

? Menambah narasi dan multimedia.

? Menyimpan dalam folder yang telah ditentukan.

? Validasi

a. Menilai bahan ajar yang telah disusun berdasarkan instrumen yang telah dikembangkan oleh PSB-SMA Direktorat Pembinaan SMA.
b. Diujicobakan terlebih dahulu terhadap sebagian peserta didik.

c. Merevisi bahan ajar berdasarkan hasil uji coba.

? Pengiriman

a. Menyerahkan file bahan ajar berbasis TIK kepada Penanggung Jawab

Pelaksana sekolah PSB-SMA.


b. Penanggung Jawab Pelaksana Sekolah PSB-SMA wajib mengirimkan bahan ajar berbasis TIK tersebut kepada Penanggung Jawab Mata Pelajaran PSB-SMA.

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan kepada pengguna yang berkepentingan terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia untuk ikut berpartisipasi ....