Breaking News
Loading...
Rabu, 15 September 2010

Info Post
Memaknakan Lebaran untuk Anak
By Winda
Saturday, 06-October-2007, 08:50:02

Lebaran atau Idulfitri, seringkali hanya menjadi ritual orang dewasa. Kekhusyukan atau kesyahduan berlebaran

lebih banyak dirasakan oleh mereka yang sudah aqil baligh (dewasa secara agama). Idulfitri yang mengandung

makna sebagai sebuah hari kembalinya kefitrahan manusia, hanya dipahami dan termaknai secara baik oleh mereka

yang telah memiliki kemampuan pemahaman (nalar) yang tinggi. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa Idulfitri


yang merupakan 'penutup' dari rangkaian ibadah saum, adalah sebuah rangkaian ibadah dalam agama Islam, yang

kerap menjadi tumpuan dan harapan setiap Muslim dewasa. Hal yang paling diimpikan dari orang muslim dewasa

dari Idulfitri ini adalah ketercapaian keinginannya menjadi manusia bak seorang bayi yang baru lahir, yaitu

menjadi orang yang suci-bersih.
Di luar kelompok orang tersebut, secara jelas bahwa ada anak yang dibawah usia aqil baligh, yaitu anak-anak

usia dini. Bagi kelompok anak-anak usia dini atau anak-anak yang masih belajar di pendidikan prasekolah dan

pendidikan dasar, Lebaran kurang dapat mencapai makna yang sejati. Bahkan, kita sangat yakin mereka tidak tahu

arti Idulfitri dan kefitrahan manusia seperti bayi yang baru lahir. BerLebaran, bagi mereka adalah suasana

hari yang tidak lebih dari kesan 'selebritis' semata. Arti selebritis di sini bukan kesannya mirip kesan para

artis (atau jangan-jangan sama!), melainkan makna Lebaran bagi anak-anak kita yang masih berada di tingkat

usia pendidikan pra-sekolah maupun di tingkat pendidikan dasar, lebih banyak memahami dan memaknai Lebaran ....

sebagai pesta sosial, yang penuh keceriaan, gelak tawa, penuh makanan, dan ramai.

Bahkan, untuk tahun-tahun yang lalu, berlebaran adalah bermain petasan, kembang api, dan makan ketupat, serta

makan kari ayam. Dari pengalaman seperti itu, maka nilai perayaannya (celebrite) lebih menonjol, dibandingkan

dengan nilai kesyahduannya Lebaran sebagai hari fitri.

Pertanyaan kita saat ini, adalah bagaimana ikhtiar kita, baik sebagai seorang kakak, seorang ayah, atau

seorang ibu dapat membantu memberikan makna Lebaran yang berharga bagi adik-adik kita yang masih lucu-lucu

ini? Bagaimana usaha kita untuk memaknakan Lebaran sebagai hari suci kepada anak usia dini?

Bila kita alpa untuk merenungkan pertanyaan ini, maka sinyalemen di awal tulisan akan semakin terbukti, yaitu

anak-anak kita yang kecil, akan lebih memaknai Lebaran hanya sekadar sebuah pesta sosial belaka dan mereka

kurang menemukan makna Lebaran yang lebih mendalam, lebih cocok untuk pengembangan pribadinya, dibandingkan

dengan memaknai Lebaran sebagai pesta sosial belaka. Oleh karena itu, mau tidak mau, dengan kemampuan yang

ada, dan lingkungan sosial yang kita miliki masing-masing, kita memiliki kewajiban memberikan lingkungan

pembelajaran sosial kepada anak usia dini, mengenai berLebaran, sehingga anak kita mampu mengangkat 'denyut'

makna hari suci.

Perlu ditegaskan di sini bahwa memang benar anak di usia dini, tidak mesti dan bahkan jangan sekali-kali

memberikan beban pembelajaran yang tidak patut untuk diberikan kepadanya. Oleh karena itu, anak di usia dini

tidak boleh dibebani dengan muatan kepentingan yang aneh-aneh. Dengan kata lain, kalau memang anak-anak kita

baru mampu memahami Lebaran sebagai sebuah pesta kebahagiaan, biarkanlah mereka pahami seperti apa adanya.

Jika bagi mereka makna Lebaran itu adalah makan ketupat, biarkanlah berkembang seperti itu adanya. Sebab, jika

mereka diceramahi tentang makna Lebaran, terlebih lagi diceramahi dengan dalil agama atau kajian ilmiah,

mereka akan semakin bengong, bingung dan tidak menyukai datangnya Lebaran.

Hal yang paling penting bagi kita saat ini, adalah memberikan suasana lingkungan Lebaran, sebagai bagian dari

usaha sadar orang tua dalam membimbing dan membina tahapan perkembangan anak-anak. Inilah poin penting, dan

kesadaran penting yang perlu kita garis bawahi dengan benar. Kita tidak mungkin merubah pesta sosial Lebaran

anak-anak. Yang akan kita lakukan, adalah memberikan sentuhan pembelajaran atau sentuhan edukatif kepada

anak-anak yang sedang merayakan pesta Lebaran.

Merujuk pada pemahaman seperti itu, dapat dijelaskan kembali bahwa anak usia dini adalah anak usia dini.

Mereka bukan anak dewasa yang bisa dijejali dengan sejumlah informasi atau materi pembelajaran yang berat.

Karena secara psikologi, bermain -bagi seorang anak usia dini-- merupakan salah satu tugas dalam tahap

perkembangannya (development task). Dengan bermain atau metode permainan itu pula, kematangan dan kedewasaan

anak kita akan berkembang secara normal dan optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, bagi kita atau orang tua

hal yang paling penting itu adalah menciptakan lingkungan sosial sebagai lingkungan belajar yang penuh suasana

psikologis yang menyenangkan sesuai dengan tahap perkembangan psikologinya. Usaha ini adalah usaha yang

relevan dan sangat mendukung untuk membangun lingkungan pendidikan di rumah bagi anak-anak di usia dini.

Sekadar contoh

Seiring dengan hal tersebut, dalam kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengetahuan mengenai usaha atau

ikhtiar kita dalam membangun lingkungan keluarga yang relevan untuk penciptaan lingkungan pembelajaran bagi

anak di usia dini. Beberapa hal yang dikemukakan di sini, sudah barang tentu, merupakan usaha tambahan belaka,

atau penekanan terhadap apa yang biasa kita lakukan selama kita menjalani hari raya Idulfitri (Lebaran).

Dengan kata lain, pada dasarnya, apa yang dituturkan dalam wacana ini bukan merubah 180 derajat tradisi

Lebaran anak-anak, melainkan hanya menguatkan dan memberikan sentuhan edukatif terhadap tradisi kita selama

Lebaran, yang sudah seringkali kita lakukan bersama.

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memberikan pengalaman spiritual dan pengalaman sosial kepada anak usia

dini. Dalam hal ini, kata kunci dalam usaha memaknakan Lebaran kepada anak usia ini, adalah memberikan

pengalaman nyata kepada anak didik. Usaha memberikan pengalaman nyata, merupakan usaha yang sangat penting

bagi penciptaan lingkungan anak usia ini. Bahkan, dapat dikatakan bahwa memaknakan Lebaran kepada anak usia

dini, bukanlah dengan cara menceramahi, atau berdiskusi dengan anak usia dini mengenai makna Lebaran,

melainkan memberikan pengalaman spiritual atau pengalaman sosial kepada anak didik, mengenai suasana Lebaran.

Pemberian pengalaman nyata ini, dapat dilakukan ketika salat Idulfitri, bersilaturahmi dengan orang tua, sanak

saudara, tetangga, atau berziarah ke makam. Rangkaian Lebaran tersebut, merupakan rangkaian sosial yang

strategis dan penting untuk meningkatkan penghayatan anak-anak terhadap Lebaran.

Dalam usaha memberikan pengalaman Lebaran ini, kadangkala banyak yang khilaf. Ada beberapa ibu muda (atau ibu

yang sudah tua dan mempunyai banyak anak) kerap kali merasa malas untuk mengajak anaknya berjalan-jalan

bersilaturahmi ke sanak saudara. Andai pun dirinya mau melakukan silaturahmi, anaknya kerapkali ditinggalkan

di pembaringannya. Dalam pandangan penulis, usaha ini merupakan sebuah usaha yang kurang bagus untuk

memberikan suasana psikologis dan pengalaman spritiual sekaligus pengalaman sosial bagi anaknya.

Hal yang kedua, seorang ibu atau bapak, juga kakak-kakaknya, perlu lebih banyak memberikan ruang partisipasi

anak usia dini untuk mengetahui seluk-beluk atau apa yang ada di sekitar dirinya, ketika dia mengalami dan

menjalani rangkaian kegiatan Lebaran. Orang yang lebih dewasa, dituntut untuk banyak bercerita, dalam bahasa

Sunda disebut dengan istilah loba baceo menceritakan apa yang sedang terjadi, atau apa yang sedang dilakukan.

Sehingga, anak kita ini bukan hanya mengalami dan menjalani rangkaian berLebaran, tetapi juga mengetahui

mengenai apa yang dilakukannya.

Untuk sekadar contoh, ketika kita bersilaturahmi ke nenek-kakek, seorang ibu atau siapa pun, perlu

menceritakan siapa dan mengapa bersilaturahmi ke orang tua. Ini penting, selain memberikan pembinaan mental

dan pengetahuan tentang akhlakul karimah (adab yang baik) juga memberikan pengetahuan, mengenai alasan

pentingnya mengunjungi ke orang tua. Sudah barang tentu, memang bahasa yang digunakannya bukanlah bahasa

seorang kiai dalam menjelaskan makna shilaturahmi, atau penjelasan seorang guru dalam menerangkan ciri-ciri

anak soleh kepada orang tua. Bahasa yang digunakan, sudah barang tentu adalah bahasa yang ringan, sederhana

yang sesuai dengan suasana Lebaran saat itu.

Ketika berziarah pun, orang tua banyak yang malas untuk bercerita mengenai 'silsilah keluarga'. Baik ketika di

makam, maupun ketika sudah sampai ke rumah, para orang tua tidak banyak yang suka menceritakan silsilah

keluarga. Padahal, usaha baceo-nya orang tua ketika berziarah, dapat menumbuhkan kesadaran bersaudara, baik

dengan nenek-moyangnya, maupun dengan sanak saudara yang hari (mungkin) masih berjauhan. Dengan usaha

menceritakan silsilah keluarga ini, maka anak-anak tidak akan mengalami 'pareumeun obor' mengenai

kadangwargi-nya. Dengan kata lain, ziarah kubur bukan hanya bermanfaat untuk menyadarkan seseorang akan 'hari

esok' (persiapan kematian), melainkan dapat dijadikan untuk usaha ishlah atau mengurai ulang jalinan

persaudaraan atau kekerabatan sanak saudara.

Refleksi akhir

Memberikan pengalaman nyata dan mengajak berdialog anak usia dini, merupakan sebuah upaya meningkatkan

partisipasi psikologi anak-anak dalam memahami dan memaknai kejadian hidup atau perilaku dirinya. Baik di

lingkungan keluarga, persekolahan maupun di masyarakat, seorang anak perlu diajak untuk mampu menunjukkan

partisipasi psikologisnya dalam memahami dan memaknai hidup.

Sekali lagi perlu dikemukakan bahwa kerap kali, orang tua banyak yang khilaf terhadap pentingnya

pempartisipasian anak-anak dalam berLebaran. Orang tua banyak yang membiarkan anak-anaknya untuk berLebaran

dengan gayanya masing-masing, misalnya bermain petasan atau nonton TV belaka. Sementara usaha untuk berziarah

ke makam, atau shilaturahmi ke tetangga dan sanak saudara, lebih banyak dilakukan oleh orang dewasa. Anak-anak

mereka lebih banyak dibiarkan dalam suasana hidupnya sendiri.

Alangkah lebih baiknya, para orang tua membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke sanak saudara, atau karib

kerabat. Bahkan, akan lebih baik lagi, bila mereka bertemu dengan anak-anak yang seusianya, kemudian mereka

berinteraksi dengan suasana keanak-anakan. Pertemuan antar anak-anak tersebut, akan bermanfaat bagi proses

pendidikan sosial. Bahkan, lebih jauhnya lagi, pertemuan antar anak dalam suasana Lebaran ini, berpotensi

sebagai bagian dari proses peningkatan kecerdasan emosional anak didik. Karena dengan bertemu dengan anak

seusianya, maka setiap anak akan merasakan 'suasana hidup' Lebaran yang lebih bermakna.

Merujuk terhadap gejala seperti itu, dapat dikatakan bahwa hari raya Lebaran, pada dasarnya merupakan momentum

yang tepat bagi orang tua untuk memberikan pembelajaran kecerdasan emosional kepada anak-anaknya. Sehingga,

anak-anak ini benar-benar menjadi homo socius atau makhluk yang mampu memahami diri sekaligus mampu

bermasyarakat dengan lingkungannya.

Dengan memahami uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahwa suasana Lebaran pada dasarnya sangat potensial

sebagai 'pesta sosial' yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, pembinaan dan pembangunan karakter

(character building) bagi anak-anak kita, sehingga memiliki kematangan belajar yang bisa dipercepat, dan mampu

menunjukkan kematangan hidupnya. Hal yang terpenting bagi orang tua, adalah memberikan ruang pengalaman nyata,

baik dengan berkomunikasi maupun dengan pempartisipasian anak dalam berbagai kegiatan Lebaran, sehingga anak

memiliki pengalaman berLebaran secara psikologis, kognisi dan sosial. Semakin banyak pengalaman berLebaran

anak, maka akan semakin mendukung pada usaha pemaknaan Lebaran pada anak usia dini. Semakin jarang dan jauh,

dari pengalaman berLebaran, maka anak-anak hanya akan mampu menangkap Lebaran sebagai pesta petasan, dan makan

ketupat. Tidak lebih dari itu.

Winda
Penulis, guru freelance di ar-Rafii Bandung.
sumber : www.pikiran-rakyat.com

0 comments:

Poskan Komentar

Silakan kepada pengguna yang berkepentingan terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia untuk ikut berpartisipasi ....